Journal Fordo

Gayo, Kerinci, Malabar: daerah asal di rak kami

5 menit baca · 2 September 2026

Kami membeli langsung dari enam daerah, dan tiga nama di antaranya terus muncul di label kami: Gayo, Kerinci, Malabar. Semuanya dataran tinggi vulkanik di atas 1.200 meter, dan kesamaannya berhenti di situ — masing-masing menanam, memfermentasi, dan mengeringkan kopi dengan caranya sendiri, dan perbedaan itu bertahan sampai ke cangkirmu.

Ini sumbangan tiap daerah, dengan satu lot di rak kami sebagai buktinya.

Gayo, Aceh: kesabaran sebagai proses

Dataran tinggi Gayo di Aceh — sekitar Bener Meriah, di 1.400–1.600 mdpl — termasuk wilayah arabika terbesar di Indonesia, dan asal lot reserve Tier III kami. Yang membedakan kebun-kebun langganan kami adalah kesabaran: natural yang dikeringkan perlahan dengan siklus fermentasi panjang yang terkontrol.

Lot yang harus dicicipi: Bener Meriah Slow-Dry Natural 300H. Namanya memang jam fermentasi: 300 jam di drum anaerobik — dua belas setengah hari — lalu sepuluh hari lagi dijemur pelan. Kesabaran itulah alasan cangkirnya terasa seperti buah segar, bukan tape.

Daerah yang sama juga hadir dalam format paling praktis yang kami buat: drip bag Bener Meriah, untuk mencicipi Gayo di meja kerja, bukan di brew bar.

Kerinci, Jambi: honey di lereng gunung

Kerinci adalah gunung berapi tertinggi di Indonesia, dan kopi tumbuh di pundaknya — lot kami datang dari Kayu Aro, di sisi Jambi yang tinggi. Tanda tangan daerah ini di rak kami adalah proses honey: ceri dikupas, tapi selapis gula buah dibiarkan menempel di biji selama pengeringan.

Kerinci Honey adalah gagasan itu dalam satu bag. Dibuka dengan manis tebu, bergerak ke pir segar, dan menutup lebih mirip secangkir earl grey daripada secangkir kopi. Kalau natural Gayo adalah ujung ramai dari rak filter kami, Kerinci ujung anggunnya.

Malabar, Jawa Barat: taman bermain fermentasi

Di selatan Bandung, perbukitan vulkanik sekitar Arjasari naik sampai 1.400–1.700 mdpl. Proses wine dan honey tumbuh subur di sini, dan petani langganan kami tidak malu-malu memakainya.

Malabar Wine adalah karya pamer daerah ini: ceri melewati fermentasi panjang sebelum dikeringkan, dan cangkirnya keluar dengan kedalaman molase, rempah hangat, dan garis nanas yang membuatnya tetap juicy, tidak berat. Lot Tier II yang menaruh fermentasi di barisan depan, bukan menyembunyikannya.

Sisa petanya

Tiga daerah lagi melengkapi keenamnya. Petarangan, di tanah vulkanik sejuk Wonosobo, Jawa Tengah, memberi kami lot reserve Double Fermentation. Situbondo, di lereng Ijen, Jawa Timur, menghasilkan cup yang bersih baik washed maupun natural — origin andalan di balik komponen houseblend dan arabika drip bag kami. Dan Ermera Farm di Timor Leste, satu-satunya origin lintas negara kami, adalah kebun 100% organik di balik filter Tier I — kopi yang kami pakai untuk mengajar pemula.

Setiap daerah punya pin, cerita, dan foto lapangan di halaman Origin kami — itu versi panjang dari artikel ini.

Cicipi geografinya

Cara tercepat membuat nama-nama ini bermakna: pilih dua daerah, seduh dengan resep yang sama di pagi yang sama, lalu cicipi berdampingan. Gayo lawan Kerinci menunjukkan kerja proses; Kerinci lawan Malabar menunjukkan seberapa lebar arti kata “buah”. Sekali sesi saja, label berhenti jadi trivia dan mulai jadi ramalan.